Di era digital, aktivitas orang lain terasa sangat dekat.
Undangan, kegiatan, pencapaian, hingga momen kebersamaan semuanya terlihat.
Namun terkadang ketika tidak selalu menjadi bagian dari semuanya.
Di situlah kadang muncul perasaan:
"Kenapa tidak ikut?"
"Kenapa tidak dilibatkan?"
Melihat teman berkumpul tanpa kita. Melihat peluang yang terasa "lewat". Melihat orang lain aktif di banyak hal. Muncul keinginan untuk ikut semuanya. Bukan karena benar-benar perlu, tetapi karena tidak ingin merasa tertinggal atau tertinggal dari kebersamaan.
Apa itu FOMO?
FOMO (Fear of Missing Out) bukan hanya takut tertinggal, tetapi juga rasa tidak nyaman karena merasa tidak ikut serta atau tidak menjadi bagian dari sesuatu. Fenomena ini berkaitan dengan Social Comparison Theory dan juga kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung dengan orang lain (sense of belonging).
Dimensi "Tidak Dilibatkan"
Manusia secara alami ingin merasa:
Ketika merasa tidak dilibatkan, muncul:
Dampak FOMO
-
1 Mengikuti terlalu banyak hal tanpa arah
-
2 Kelelahan mental dan emosional
-
3 Sulit fokus pada tujuan pribadi
-
4 Kehilangan kendali atas prioritas hidup
Media sosial sering menampilkan momen terbaik, bukan keseluruhan proses.
Yang terlihat:
kebersamaan, pencapaian, aktivitas menarik
Yang TIDAK terlihat:
proses panjang, kegagalan, kelelahan di baliknya
Mari Merubah Cara Pandang
Tidak semua aktivitas harus diikuti.
Tidak semua kesempatan harus diambil.
Tidak semua lingkaran harus dimasuki.
Menjadi bagian dari semuanya bukan berarti berkembang.
Framework Solusi
Pahami bahwa keinginan ikut serta tidak selalu berasal dari kebutuhan pribadi.
Tentukan aktivitas dan lingkungan yang benar-benar relevan.
Jangan berpikir jika kamu tidak dilibatkan dalam suatu acara atau aktivitas, kamu dianggap tertinggal atau tidak berarti, ada 1001 alasan mengapa orang tidak melibatkan kamu. Jadi santai saja, mungkin kadang kamu juga seperti itu, terkadang ada berbagai pertimbangan tidak melibatkan seseorang dalam urusanmu, karena itu jadilah orang yang bijaksana dalam menyikapinya.
Coba lakukan hari ini:
-
1 Identifikasi aktivitas yang benar-benar penting
-
2 Evaluasi: mana yang dilakukan karena kebutuhan, mana karena FOMO
-
3 Berani mengatakan "tidak" pada hal yang tidak relevan
-
4 Tidak perlu berpikir berlebihan jika kamu tidak dilibatkan dalam sebuah kegiatan, fokus saja dengan semua kondisi dan aktivitas yang sudah jelas kamu terlibat di dalamnya
Tidak harus ikut semua untuk menjadi cukup.
Tidak harus dilibatkan di semua hal untuk menjadi berarti.
Fokus pada apa yang benar-benar penting akan membuat langkah terasa lebih ringan dan terarah.
Referensi
- Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Computers in Human Behavior.
- Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The Need to Belong. Psychological Bulletin.
- Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations.
- Alt, D. (2015). College Students' Academic Motivation, Media Engagement and Fear of Missing Out. Computers in Human Behavior.
- Elhai, J. D., Levine, J. C., Dvorak, R. D., & Hall, B. J. (2016). Fear of Missing Out and Its Relationship with Anxiety and Smartphone Use. Computers in Human Behavior.

Masuk
Memuat...