Overthinking adalah kondisi ketika seseorang berpikir secara berlebihan tanpa menghasilkan keputusan atau tindakan. Overthinking tidak hanya melelahkan, tetapi juga menghambat.
Beberapa dampaknya:
• sulit mengambil keputusan
• kehilangan momentum
• meningkatnya rasa cemas
• menunda tindakan yang sebenarnya penting
Masalahnya bukan karena kurang kemampuan. Bukan juga karena kurang peluang.
Sering kali, akar dari overthinking adalah:
- takut membuat kesalahan
- ingin hasil yang sempurna
- terlalu fokus pada kemungkinan negatif
Tidak semua keputusan harus sempurna. Tidak semua langkah harus pasti berhasil. Dalam banyak situasi, kemajuan justru datang dari mencoba, bukan menunggu kepastian.
Untuk mengatasi overthinking, gunakan pendekatan sederhana:
Gunakan waktu untuk mempertimbangkan dengan cukup.
Tentukan batas waktu berpikir. Tidak semua perlu dianalisis terlalu lama.
Ambil langkah kecil pertama. Tindakan akan memberikan kejelasan.
Alih-alih terus memikirkan langkah besar, mulailah dari hal sederhana:
Menulis rencana singkat, mencoba satu langkah kecil, belajar dari proses
Langkah kecil lebih berarti daripada rencana besar yang tidak dijalankan.
Berpikir itu penting. Namun tanpa tindakan, tidak akan membawa perubahan. Langkah kecil hari ini lebih berarti daripada rencana sempurna yang tertunda.
Referensi
- Nolen-Hoeksema, S. (2000). The Role of Rumination in Depressive Disorders and Mixed Anxiety/Depressive Symptoms. Journal of Abnormal Psychology.
- Nolen-Hoeksema, S. (1991). Responses to Depression and Their Effects on the Duration of Depressive Episodes. Journal of Abnormal Psychology.
- Iyengar, S. S., & Lepper, M. R. (2000). When Choice is Demotivating. Journal of Personality and Social Psychology.
- Baumeister, R. F., & Vohs, K. D. (2007). Self-Regulation, Ego Depletion, and Motivation. Social and Personality Psychology Compass.
- Watkins, E. R. (2008). Constructive and Unconstructive Repetitive Thought. Psychological Bulletin.

Masuk
Memuat...