Pernah nggak, kamu cuma niat buka HP 5 menit… tapi tiba-tiba sudah 1 jam berlalu dan bukannya merasa lebih tenang, malah jadi kepikiran macam-macam?
Kalau iya, kamu tidak sendirian.Fenomena ini punya nama: doomscrolling kebiasaan scroll tanpa henti, terutama konten yang memicu emosi, kecemasan, atau perbandingan sosial.
Dan ini bukan sekadar kebiasaan kecil. Ini ada dampak psikologisnya.
Kenapa Scrolling Bisa Bikin Overthinking?
#1 Otak Kita "Diprogram" untuk Fokus ke Hal Negatif
Secara biologis, manusia memang lebih sensitif terhadap ancaman atau hal negatif (negativity bias). Saat kamu terus melihat berita buruk, drama sosial media, kehidupan "sempurna" orang lain, otak akan masuk mode waspada terus-menerus. Penelitian menunjukkan bahwa paparan konten negatif secara terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan, stres, bahkan depresi. Scrolling berlebihan dikaitkan dengan existential anxiety (kecemasan tentang hidup dan masa depan).
#2 Scroll = Overload Informasi
Setiap kali kamu scroll, otak dibanjiri banyak informasi dalam waktu singkat hingga memicu cognitive overload. Akibatnya, kemampuan berpikir mendalam menurun dan pikiran jadi tidak fokus atau "lompat-lompat". Paparan berlebihan ini juga bisa memicu overthinking, kelelahan mental, dan menurunkan rasa percaya diri (self-esteem).
#3 Algoritma Memperkuat Pikiran Negatifmu
Platform digital tidak netral karena algoritma akan terus menampilkan konten serupa dengan yang kamu konsumsi. Saat sering melihat konten galau atau perbandingan hidup, kamu masuk ke loop scroll, kepikiran, lalu scroll lagi. Inilah yang membuat doomscrolling memicu meningkatnya kecemasan.
#4 Scroll Itu Terasa "Menenangkan" Tapi Sementara
Banyak orang scroll untuk "lari" dari stres, tetapi efeknya hanya sementara. Scrolling sering memberi rasa kontrol semu, padahal dalam jangka panjang justru meningkatkan stres dan menciptakan siklus candu. Karena itu, overthinking bukan berarti kamu lemah. Jika kamu mudah overthinking, sulit berhenti scroll, atau sering membandingkan diri, hal itu lebih dipengaruhi oleh desain platform digital, cara kerja algoritma, dan respon alami otak terhadap banjir informasi.
Cara Menghentikan Loop:
-
1 Mengikuti terlalu banyak hal tanpa arah Kenali waktu dan jenis konten yang paling sering memicu kamu scroll dan overthinking. Awareness jadi langkah awal untuk berubah.
-
2 Batasi, Bukan Langsung Berhenti Tidak perlu ekstrem, cukup kurangi di waktu rentan seperti pagi dan sebelum tidur untuk menekan stres digital.
-
3 Ubah Pola Konsumsi Bukan cuma durasi, tapi isi kontennya. Pilih konten yang lebih positif, edukatif, dan membangun.
-
4 Gunakan HP sebagai Tools Biasakan punya tujuan sebelum buka HP agar tidak terjebak scroll tanpa arah.
-
5 Latih "Mental Pause" Saat mulai overthinking, berhenti sejenak dan cek apakah yang dipikirkan itu fakta atau asumsi.
Digital Readiness Itu Bukan Soal Teknologi, Tapi Kesadaran
Di era sekarang, masalahnya bukan kita kekurangan informasi. Masalahnya adalah kita kebanyakan informasi tanpa kendali.
Scrolling bukan musuh. Tapi scrolling tanpa sadar, itu yang jadi masalah.
Kalau kamu bisa mengontrol cara kamu menggunakan teknologi, maka kamu bukan lagi "korban algoritma" kamu jadi pengguna yang siap (digitally ready).
Referensi
- Satici et al. (2022) – Doomscrolling Scale and mental health (PMC)
- Mayo Clinic (2024) – Doomscrolling and emotional distress (Mayo Clinic Proceedings)
- Yousef (2025) – Digital overload & cognitive impact ("brain rot") (PMC)
- Hawwa et al. (2025) – Doomscrolling as mediator of anxiety (ResearchGate)
- Harvard Health (2024) – Stress & compulsive scrolling behavior (Harvard Health)
- Price et al. (2022) – Social media exposure & depression/PTSD (PMC)
- Mental Health Foundation – Impact of doomscrolling on anxiety (Mental Health Foundation)
- Review Study (2026) – Doomscrolling linked to anxiety, stress, and low resilience (ResearchGate)

Masuk
Memuat...